Kamis, 28 Februari 2013

AMIR HAMZAH


Biografi Amir Hamzah
Amir Hamzah yang bernama lengkap Tengku Amir Hamzah Pangeran Indera Putera (lahir di Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Timur, 28 Februari 1911 – meninggal di Kuala Begumit, 20 Maret 1946 pada umur 35 tahun) adalah seorang sastrawan Indonesia angkatan Pujangga Baru. Ia lahir dalam lingkungan keluarga bangsawan Melayu (Kesultanan Langkat) dan banyak berkecimpung dalam alam sastra dan kebudayaan Melayu.
Amir Hamzah Mula-mula Amir menempuh pendidikan di Langkatsche School di Tanjung Pura pada tahun 1916. Lalu, di tahun 1924 ia masuk sekolah MULO (sekolah menengah pertama) di Medan. Setahun kemudian dia hijrah ke Jakarta hingga menyelesaikan sekolah menengah pertamanya pada tahun 1927. Amir, kemudian melanjutkan sekolah di AMS (sekolah menengah atas) Solo, Jawa Tengah, Jurusan Sastra Timur, hingga tamat. Lalu, ia kembali lagi ke Jakarta dan masuk Sekolah Hakim Tinggi hingga meraih Sarjana Muda Hukum. Kemudian ia tinggal di Pulau Jawa pada saat pergerakan kemerdekaan dan rasa kebangsaan Indonesia bangkit. Pada masa ini ia memperkaya dirinya dengan kebudayaan modern, kebudayaan Jawa, dan kebudayaan Asia yang lain.
Dalam kumpulan sajak Buah Rindu (1941) yang ditulis antara tahun 1928 dan tahun 1935 terlihat jelas perubahan perlahan saat lirik pantun dan syair Melayu menjadi sajak yang lebih modern. Bersama dengan Sutan Takdir Alisjahbana dan Armijn Pane ia mendirikan majalah Pujangga Baru (1933), yang kemudian oleh H.B. Jassin dianggap sebagai tonggak berdirinya angkatan sastrawan Pujangga Baru. Kumpulan puisi karyanya yang lain, Nyanyi Sunyi (1937), juga menjadi bahan rujukan klasik kesusastraan Indonesia. Ia pun melahirkan karya-karya terjemahan, seperti Setanggi Timur (1939), Bagawat Gita (1933), dan Syirul Asyar (tt.).
Amir Hamzah tidak hanya menjadi penyair besar pada zaman Pujangga Baru, tetapi juga menjadi penyair yang diakui kemampuannya dalam bahasa Melayu-Indonesia hingga sekarang. Di tangannya Bahasa Melayu mendapat suara dan lagu yang unik yang terus dihargai hingga zaman sekarang.
Amir Hamzah terbunuh dalam Revolusi Sosial Sumatera Timur yang melanda pesisir Sumatra bagian timur di awal-awal tahun Indonesia merdeka. Ia wafat di Kuala Begumit dan dimakamkan di pemakaman Mesjid Azizi, Tanjung Pura, Langkat. Ia diangkat menjadi Pahlawan Nasional Indonesia.

Berdiri Aku
Berdiri aku di senja senyap
Camar melayang menepis buih
Melayah bakau mengurai puncak
Berjulang datang ubur terkembang

Angin pulang menyejuk bumi
Menepuk teluk mengepas emas
Lari ke gunung memuncak sunyi
Berayun-ayun di atas alas

Benang raja mencelup ujung
Naik marah menyerang corak
Elang leka sayap tergulung
Dimabuk warna berarak-arak

Dalam rupa maha sempurna
Rindu senda mengharu kalbu
Ingin datang merasa sentosa
Mengecap hidup bertentu tuju

a). Diksi
Dalam puisi Amir Hamzah selalu membuat pilihan kata yang penuh konotasi. Selain itu Amir Hamsering menggunakan kata-kata yang arkaik, sehingga pembaca akan merasa bernostalgia dengan kata-kata yang di tulisnya. Kata kata seperti, senyap, mengurai, mengempas, berayun-ayun dan sayap tergulung identik dengan kesunyian. Kata-kata tersebut membentuk makna kasendirian yang inigin digambarkan pengarang.
Kata ”maha sempurna” dalam akhir bait juga merupakan arti konotasi dari tuhan yang maha sempurna. Kata ”menyecap” memiliki arti impian yang ingin dirasakan. Permainan kata-kata yang digunakan yang ditulis memang sebuah misteri untuk menyembunyikan ide pengarang.
Kemisteriusan ini ditambah dengan pilihan kata arkaik seperti, ”marak” dan ”leka”. ”marak” itu berarti cahaya sedangkan ”leka” berarti lengah atau lalai. Walaupun kata-kata itu sudah tidak digunakan lagi dalam percakapan sehari-hari, mungkin saja kata-kata tersebut masih ada dalam percakapan sehari-hari sewaktu Amir menulis sajaknya. Selain itu dia juga menulis kata-kata yang merupakan bahasa daerah yakni ”alas” yang berasal dari bahasa Jawa yang berarti hutan. Meskipun kata-kata yang digunakan Amir ini tidak dikenali lagi, bagi Amir kata-kata itu seperti sangat puitis dan representatif untuk menyampaikan gagasannya.

b). Efoni dan Irama
Suasana kesedihan yang ditampilkan oleh pengarang memperlihatkan efek efoni dan irama dalam puisi tersebut. Irama dan efek efoni itu membuat puisi itu lebih merdu seandainya dibaca. Walaupun banyak kata-kata yang menimbulkan kakafoni seperti aku, senja, senyap, menepis, bakau, datang, terkembang, teluk, sunyi, di atas, leka, sayap, merasa, sempurna, sentosa, tertentu, dan tuju. Walaupun kata-kata tersebut memberi kesan tidak merdu tetapi penggunan rima yang mantak dalam puisi tersebut membuat sajak menimbulkan kesan menyenangkan. Seperti bunyi bumi-sunyi, emas-alas, ujung-tergulung, corak-arak, sempurna-sentosa, kalbu-tuju mrupakan rima yang membuat sajak itu akhirnya memiliki efek efoni.
Selain itu aliterasi seperti berjulang-datang, menepuk teluk, mengempas emas, di atas alas, naik marak menyerak corak serta asonansi seperti dalam rupa maha sempurna, rindu-sedu mengharu kalbu, merasa sentosa, bertentu tuju. Huruf-huruf yang sama tersebut dapat menimbulkan kesan efoni walaupun banyak katayang berbunyi tidak merdu dengan adanya bunyi k,p,t dan s.
Selain timbul efek efoni unsur bunyi yangb berpola tersebut menimbulkan irama dalam sajak. Persamaan bunyi pada puisi ini akan menyebabkan terdengar adanya pergantian bunyi pendek, lembut dan rendah. Karena suasana kasunyian yang dituliskan penyair tak mungkin memberi irama yang tinggi dan cepat tetapi irama yang rendah atau lambat.

(c) Bahasa Kiasan
Seperti halnya puisi lama pemilihan bahasa kiasan memang sangat diperlukan untuk memperindah kata-katanya sehingga makna yang diberikan bisa lebih kaya dan mendalam. Dalam puisi ”Berdiri Aku”yang menojol adalah adanya personifikasi seperti:
Melayah bakau mengurai puncak
....................................................angin pulang menyejuk bumi
Menepuk teluk mengempas emas
Lari ke gunung memuncak sunyi
Berayun-ayun di atas alas
............................................Naik marak menyerak corak
Dalam puisi tersebut Amir Hamzah menghidupkan ombak dan angin yang bertujuan ingin menambah rasa kesunyian dan kesendirian penyair. Seperti halnya dengan mengagumi ombak yang menerpa pohon-pohon bakau serta desir angin yang mengempakkan semuanya terlihat kalau penyair benar-benar merasa sepi dan hanya mampu melihat pemandangan sekitarnya saja.
Selain personifikasi yang dominan ada juga gaya metafora yang terlihat dari kalimat benang raja mencelup ujung dan dalam rupa maha sempurna. Penyair membandingkan apa yang dilihat dan dialami dengan kata ”benang raja” dan ”maha sempurna.
Hiperbola juga nampak dalam kalimat Rindu-sedu mengharu kalbu yang menggambarkan kesedihan dan rindu yang benar-benar mendalam. Gaya bahasa yang digunakan membuat makna puisi itu lebih mendalam dan lebih padat.
d). Citraan
Sajak Berdiri aku ini menimbulkan imaji penglihatan ”visual imagery”, seolah-olah kita milihat suasana pantai yang indah. Keindahan terlihat dari

Camar melayang manepis buih
Melayah bakau mengurai puncak
Berjulang datang ubur terkembang
.....................................................Benang raja mencelup ujung
............................................Elang leka sayap tergulung
Dari kalimat tersebut kita disuruh melihat keindahan pantai pada sore hari yang digambarkan perngarang lewat kata-katanya. Dengan bermainnya khayal visual kita, kita akan mampu membayangkan keindahan pantai pada waktu sore yang sunyi sehingga kesedihan akan semakin terasa mencekam. Sesunyian ini ditambah lagi dengan imaji perasa yang terlihat pada bait kedua
Angin pulang menyejuk bumi
Menepuk teluk mengempas emas
Lari ke gunung memuncak sunyi
Berayun-ayun di atas alas
Dalam kalimat pertama imaji kita akan merasakan kesejukan dengan kata-kata tersebuit teatapi sayang angin itulah yang menghempaskan harapan dan membawa lari sehingga yang terasa hanyalah sunyi yang semakin dalam. Dengan berbagai citraan yang mampu ditampilkan penyair ini pembaca akan ikut merasakan apa yang di tulis oleh penyair dengan inderanya sendiri.

Sajak ”Berdiri Aku” ini merupakan ekspresi kesedihan yang ditampilkan penyair dengan suasana sunyi. Kesedihan ini tidak lain dikarenakan oleh perpisahannya dengan kekasihnya dan dia harus pulang ke Medan dan menikah dengan putri pamannya. Perasaan sedih yang sangat mendalam digambarkan penyair dengan suasana sunyi pantai di sore hari. Dengan demikian penyair hanya mampu melihat keindahan alam sekitar karena kebahagiaannya dan harapan telah hilang.
Kesedihan yang mendalam ini juga wujud perasaan galau penyair yang digambarkan dengan perasaannya yang dipermainkan ombak dan angin. Sehingga hanya merenungi hiduplah yang mampu dilakukannya.
Sebagai orang yang memiliki agama yang kuat dalam setiap akhirnya dia hanya bisa menyerahkan semua yang dia alami ini kepada Tuhan. Dengan merenungi hidupnya selama ini Amir berusaha untuk mengembalikan kepada Tuhan yang memberikan kepastian dalam hidupnya. Seperti yang tergambar dalam Rindu sendu mengharu kalbu / ingin datang merasa sentosa / menyerap hidup tertentu tuju.
Dalam sajak ini tergambar suasana pesimis penyair dalam menghadapi segala permasalahan hidupnya. Suasana pesimis ini menjadikannya menjadi melankolis. Karena dari kebanyakan sajak adalah sebuah ratapan akan hidupnya dan kesedihannya dalam memikirkan nasib hidup yang baginya sudah benar-benar hancur.
Dengan sajak ini Amir Hamzah ingin menyampaikan ide dan pemikirannya melalui puisi yang dia tulis. Dia menginginkan apapun yang terjadi dalam hidup kita ini harus mernyerahkan terhadap Tuhan karena hanya dialah yang mampu memberi kepastian dalam kahidupan ini.







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar